Katantb.com – Pasca menyabet juara umum pada ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) pekan kemarin, Desa Wisata Bilebante menarik perhatian berbagai daerah. Tak lama setelah menerima penghargaan tersebut, desa ini menjadi rujukan studi tiru, salah satunya oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang melaksanakan kunjungan studi tiru ke Desa Wisata Bilebante pada Senin (15/12).
Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka studi tiru sekaligus berbagi pengalaman terkait pengembangan desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Rombongan Dispar Provinsi Jawa Timur ingin melihat secara langsung pengelolaan Desa Wisata Bilebante yang berhasil meraih prestasi tertinggi pada ajang WIA tingkat nasional. “Ini kan sebenarnya dalam rangka kita studi tiru, bukan studi banding iya, tapi studi tiru,” ujar Adyatama Parekraf Ahli Muda Bidang Destinasi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim, Dyah Sukma Novianti.
Ia menjelaskan, pada ajang WIA, Desa Wisata Bilebante menjadi satu-satunya desa wisata dari Nusa Tenggara Barat yang berhasil menembus 30 besar sekaligus meraih juara umum. “Karena dalam rangka event WIA kemarin, mungkin satu-satunya NTB yang masuk ke 30 besar tapi langsung masuk di juara umumnya,” jelasnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyampaikan bahwa kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk saling berbagi praktik baik antar daerah, khususnya dalam pengembangan desa wisata dan pemberdayaan masyarakat. “Kita hanya ingin sharing karena kebetulan saya pribadi bersama tim ini berada di bidang destinasi pariwisata yang menaungi tentang pemberdayaan masyarakat dan desa wisata,” ungkapnya.
Dijelaskannya, Provinsi Jawa Timur sendiri memiliki sejumlah desa wisata yang juga berprestasi pada ajang WIA. Bahkan, dua desa wisata di daerah kami di Jawa Timur berhasil meraih peringkat teratas pada kategori desa wisata berbasis alam.
“Kemarin kami memang ada beberapa desa wisata yang masuk 60 besar terus masuk di 30 besar. Nah kebetulan di juara 1 dan juara 2 kategori desa wisata berbasis alam, yaitu Desa Sumberdem Kabupaten Malang sebagai juara 1 dan Desa Wonocoyo Kabupaten Trenggalek sebagai juara 2,” tuturnya.
Menurutnya, Desa Wisata Bilebante memiliki cerita transformasi yang sangat menarik. Desa yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan tambang pasir, kini beralih menjadi destinasi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Bahkan, aktivitas tambang pasir di kawasan tersebut telah dihentikan.
“Perubahan itu luar biasa. Mengubah industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak tentu tidak mudah. Pasti prosesnya berat, mungkin penuh pengorbanan, tapi hasilnya bisa kita lihat sekarang,” katanya.
Keunikan desa wisata ini, lanjutnya, terletak pada konsep wisata yang mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya mengandalkan satu daya tarik tertentu. Wisatawan diajak merasakan langsung kehidupan warga melalui paket wisata yang dipandu oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).“Wisatawan datang sebagai tamu dan pulang sebagai keluarga. Ini konsep yang sangat kuat. Mereka tidak menjual bangunan, tapi menjual pengalaman dan rasa,” ujarnya.
Hal lain, sebut dia, komitmen Desa Wisata Bilebante dalam memprioritaskan peningkatan sumber daya manusia (SDM) dibandingkan pembangunan fisik. Setiap bantuan program maupun Corporate Social Responsibility (CSR) lebih diarahkan pada pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.
“Tidak banyak desa wisata yang berpikir ke arah SDM. Umumnya begitu dapat anggaran langsung membangun gerbang, gazebo, atau bangunan fisik. Di sini justru fokusnya peningkatan kapasitas masyarakat, dan hasilnya terlihat. Dengan pelatihan yang intensif kepada kualitas SDM-nya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Bilebante, Asrok Mudailun, menyambut baik kedatangan perwakilan dari Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa setiap tamu yang berkunjung ke Desa Wisata Bilebante selalu disambut dengan filosofi kebersamaan. “Setiap yang datang berkunjung ke Desa Bilebante, slogan kami di sini adalah datang sebagai tamu, pulang sebagai keluarga,” sebutnya. (Lun)














