Lombok Utara – Sabtu pagi, 1 Agustus 2026, bertempat di Aula SDN 5 Sigar Penjalin Kabupaten Lombok Utara dipenuhi keceriaan siswa kelas IV dan V. Duduk di Lesehan menghadap layar proyektor, mereka tampak antusias mengikuti kegiatan edukasi anti-bullying yang digelar Kelompok Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) 194 UIN Mataram. Di balik suasana yang riuh dan penuh tawa itu, para mahasiswa mengajak siswa memahami bahwa candaan yang dianggap sepele bisa saja meninggalkan luka bagi orang lain.
Pagi itu mereka kedatangan Kelompok KKP 194 UIN Mataram di Desa Sigar Penjalin. Topik yang dibawa cukup dekat dengan kehidupan anak-anak, yaitu tentang bullying. Bukan cerita yang jauh dari keseharian mereka, sebab ejekan, dorongan, panggilan yang tidak disukai, atau sengaja tidak mengajak seseorang bermain bisa muncul di sekolah tanpa banyak orang menyadari bahwa hal itu menyakitkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini berada dalam pendampingan Dr. Ahmad Zohdi, M.Ag. sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Timnya diketuai oleh Ricky Alfian, bersama anggota lainnya, yaitu Kemas Anota, Amrina Rosyada, Faizah Fitriani, Khofifatul Wasifa, Amrina Rosada, M. Afrezi, Indah Dwi Cahyani, Muhammad Alvin Rifki, Putri Husnul Khatimah, Haerunnisa, Diva Maharani Nuryadin, dan Tira Al Fanani.
Mereka datang dengan penuh semangat untuk berbagai ilmu dan berinteraksi dengan siswa SDN 5 Sigar Penjalin. Tidak ada ceramah panjang yang membuat anak-anak hanya duduk diam dan mendengar. Mahasiswa mendekat, bertanya, bercanda, lalu mengajak siswa melihat kembali kebiasaan mereka saat bermain dan berteman.
Pembicaraan dimulai dari hal sederhana. Kadang seseorang menganggap ucapannya hanya bercanda, padahal teman yang mendengarnya pulang dengan perasaan sedih. Ada ejekan yang terus diulang. Ada panggilan yang sebenarnya tidak disukai. Ada juga anak yang sengaja dijauhkan dari kelompok bermain.
Di layar, anak-anak diperkenalkan pada arti bullying. Sederhananya, bullying adalah perbuatan yang sengaja dilakukan untuk menyakiti, menakuti, mempermalukan, atau membuat orang lain merasa tidak berharga. Tindakannya bisa muncul lewat kata-kata, perlakuan fisik, atau sikap menjauhi teman.
Penjelasan seperti itu membuat anak-anak mulai melihat bahwa bullying tidak selalu berbentuk pukulan. Menertawakan bentuk tubuh, mengejek nama orang tua, merebut barang, mendorong, atau sengaja membiarkan seorang teman sendirian juga bisa melukai.
Suasana semakin seru dan lebih hidup ketika mahasiswa turun dan berbicara langsung dengan anak-anak. Beberapa siswa menatap serius, sebagian tersenyum malu saat ditanya, sementara teman-temannya ikut memperhatikan. Jarak antara pemateri dan peserta hampir tidak terasa. Mereka seperti sedang mengobrol bersama, hanya saja obrolan kali ini membawa pesan penting.
Anak-anak lalu diajak memahami satu hal, yaitu tidak semua tawa berarti semua orang sedang bahagia. Bisa saja yang mengejek tertawa, teman-teman di sekitarnya ikut tertawa, sementara anak yang menjadi sasaran memilih diam karena malu atau takut.
Kalau sebuah candaan membuat teman sedih, takut masuk kelas, tidak percaya diri, atau merasa sendirian, itu sudah tidak lucu lagi.
Bullying juga meninggalkan luka yang bentuknya berbeda-beda. Luka di tubuh mungkin dapat terlihat. Ada memar, goresan, atau rasa sakit. Luka di dalam hati lebih sulit dikenali. Seorang anak bisa merasa malu, takut, kesepian, dan kehilangan rasa percaya diri, meski dari luar ia tampak biasa saja.
Bagian yang paling menarik muncul saat salah seorang siswa diajak maju ke depan. Mahasiswa menunjukkan cara bersikap ketika menghadapi bullying. Anak-anak yang sejak tadi duduk mulai memperhatikan dengan lebih serius. Ada yang ikut menjawab dari tempat duduk, ada pula yang tampak ingin maju berikutnya.
Pesannya mudah diingat. Ketika ada yang menyakiti atau mengejek, anak-anak diajak berani berkata, “Stop!” Ucapkan dengan jelas, lalu menjauh ke tempat yang aman. Setelah itu, ceritakan kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya.
Bercerita bukan berarti suka mengadu. Ada kejadian yang memang perlu diketahui orang dewasa agar tidak terus berulang. Anak-anak tidak harus memendam rasa takut sendirian.
Teman yang melihat bullying juga diajak untuk tidak ikut tertawa. Kadang pelaku merasa tindakannya lucu karena orang-orang di sekitarnya memberi respons. Saat tidak ada yang ikut menertawakan, saat ada teman yang berani menolong, bullying bisa dihentikan lebih cepat.
Menjadi teman yang baik tidak perlu menunggu sesuatu yang besar. Cukup dengan menjaga ucapan, tidak mempermalukan teman, mau meminta maaf, dan berani membantu ketika ada yang diperlakukan tidak baik.
Kalimat “Ngebully? Gak Keren! Teman Baik Lebih Keren!” menjadi pesan yang paling mudah dibawa pulang. Menjadi keren bukan karena ditakuti. Anak yang keren adalah anak yang bisa membuat temannya merasa aman, diterima, dan nyaman berada di dekatnya.
Menjelang kegiatan selesai, beberapa siswa maju dan berdiri bersama mahasiswa. Ada hadiah kecil, senyum lebar, dan tepuk tangan dari teman-teman yang masih duduk di depan. Suasana pagi itu ditutup dengan wajah-wajah ceria.
Kegiatan ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi pesannya bisa terus tinggal di kepala anak-anak. Sebelum mengejek, pikirkan perasaan teman. Saat melihat seseorang diganggu, jangan ikut tertawa. Ketika diri sendiri merasa disakiti, jangan takut untuk bercerita. Sebab teman seharusnya membuat hari-hari di sekolah terasa lebih seru, bukan membuat seseorang ingin menjauh dan merasa sendirian. (AS)















