Jejak Sang Tuan Guru Masnun Tahir: Dari Dasan Baru ke Panggung Ilmu

- Penulis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 05:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulisan opini dari Dr. Arif Sugitanata, S.H., M.H., tidak mewakili pandangan redaksi katantb.com

 

Ada usia yang bertambah begitu saja. Kalender berganti tanggal, angka bertambah satu, ucapan datang dari berbagai arah, lalu esok pagi kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Kita semua pernah melewati hari seperti itu. Namun ada pula pertambahan usia yang membuat kita ingin tinggal sedikit lebih lama di dalamnya, menoleh ke belakang, membuka kembali beberapa halaman perjalanan, lalu menyadari bahwa waktu rupanya telah membawa seseorang begitu jauh.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mungkin karena pada titik tertentu, usia memang tidak lagi menarik jika hanya dibaca sebagai angka. Di belakangnya tersimpan perjalanan yang begitu panjang, di mana masa kecil, keluarga, guru-guru, ruang belajar, persahabatan, pengabdian, perjumpaan, juga begitu banyak pengalaman yang perlahan membentuk seseorang menjadi dirinya hari ini.

Pada 27 Agustus ini, Prof. Dr. TGH. H. Masnun Tahir, M.Ag. genap berusia 51 tahun.

Lima puluh satu tahun membawa banyak cerita. Dan bila kita hendak membaca perjalanan Prof. Masnun, rasanya kita perlu memulainya dari tempat yang jauh dari hiruk-pikuk panggung akademik hari ini. Dan mungkin kita bisa kembali sejenak ke Dasan Baru, Lombok Tengah.

Di sanalah Prof. Masnun kecil tumbuh dalam kehidupan desa yang sederhana. Jauh sebelum namanya dikenal sebagai profesor, rektor, Tuan Guru, Ketua PWNU Nusa Tenggara Barat, dan tokoh yang hadir dalam berbagai forum nasional maupun internasional, hari-harinya pernah begitu dekat dengan kehidupan di kampung. Ia menggembala sapi, mencari rumput untuk ternak, bersekolah, lalu perlahan mengenal dunia yang semakin luas melalui pendidikan.

Ada kehangatan tersendiri ketika bagian perjalanan ini dibaca kembali. Sebab dari Dasan Baru itulah jalan panjang itu bermula. Masnun muda kemudian memasuki madrasah dan pesantren. Dari Lombok, langkahnya berlanjut ke Yogyakarta. Kota itu membuka ruang yang lebih luas untuk membaca, berdiskusi, berguru, dan mengenal berbagai corak pemikiran. Perjalanan sebagai seorang penuntut ilmu terus berkembang sampai kemudian ia sendiri memasuki ruang kelas sebagai seorang pengajar.

Secara perlahan dan berproses, posisi itu kian berubah. Orang yang bertahun-tahun duduk di hadapan para guru, pada waktunya menjadi sosok yang didatangi mahasiswa untuk belajar.

Saya kira, bagian semacam inilah yang membuat perjalanan seorang akademisi selalu menarik. Ilmu tumbuh melalui mata rantai yang panjang. Seseorang menerima dari gurunya, merawat apa yang diterimanya, memperkaya melalui pengalaman dan pembacaan, kemudian menyerahkannya kepada generasi berikutnya. Dalam perjalanan Prof. Masnun, mata rantai itu terus bergerak hingga hari ini.

Ia pernah mengajar sebagai guru, lalu memasuki dunia perguruan tinggi sebagai dosen. Buku (kitab), jurnal, penelitian, dan ruang kelas menjadi bagian dari kesehariannya. Amanah akademik kemudian datang bertahap, di mana beliau mengelola lembaga penelitian, menjalankan tanggung jawab di bidang akademik, menjadi wakil rektor, hingga akhirnya dipercaya memimpin UIN Mataram. Kepercayaan itu berlanjut. Setelah menyelesaikan periode pertama, Prof. Masnun kembali mendapat amanah sebagai Rektor UIN Mataram untuk periode berikutnya.

Perjalanan pengabdiannya pun tidak berhenti pada lingkungan kampus. Di Nahdlatul Ulama, ia dipercaya memimpin PWNU Nusa Tenggara Barat. Dalam ruang pendidikan tinggi keagamaan, ia hadir bersama para pimpinan PTKN Indonesia. Di berbagai kesempatan, kita menjumpai namanya dalam percakapan-percakapan mengenai pendidikan, hukum Islam, kehidupan umat, kebangsaan, dan masa depan perguruan tinggi Islam.

Baca Juga:  Targetkan Kampus Internasional, UIN Mataram Buka Pintu untuk Mahasiswa Asing

Jika semua perjalanan tersebut disusun satu demi satu, kita akan menemukan daftar pengalaman yang cukup panjang. Namun ada bagian lain yang membuat sosok Prof. Masnun semakin menarik untuk dibaca, yakni jalan keilmuannya.

Fikih dan hukum Islam telah lama menjadi rumah intelektualnya. Hanya saja, rumah itu memiliki banyak pintu dan jendela. Dari sana ia berbicara tentang masyarakat Sasak, keluarga, perempuan, budaya lokal, kebangsaan, keberagaman, dan kehidupan umat Islam di tengah Indonesia yang majemuk. Fikih dalam berbagai karya dan pemikirannya berjumpa langsung dengan persoalan yang hadir di tengah masyarakat.

Di sanalah kita mengenal gagasan-gagasan yang mencoba mendekatkan bahasa agama dengan denyut kehidupan sosial. Ada perhatian terhadap fikih sosial, fikih kebangsaan, multikulturalisme, budaya lokal, serta berbagai persoalan hukum Islam yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Membaca jejak semacam ini membuat kita memahami mengapa seorang guru tidak selalu hadir hanya melalui ruang kelas.

Ia bisa hadir melalui tulisan yang dibaca orang bertahun-tahun kemudian. Melalui satu gagasan yang diteruskan oleh mahasiswa. Melalui percakapan singkat di sebuah forum. Bahkan melalui pertanyaan yang pernah ia ajukan dan kemudian terus dipikirkan oleh orang lain setelah pertemuan selesai.

Entah berapa mahasiswa yang telah melewati ruang kelas bersama Prof. Masnun. Entah berapa skripsi, tesis, disertasi, artikel, dan percakapan akademik yang pernah bersinggungan dengannya. Kita tentu sulit menghitung semuanya.

Namun mungkin memang tidak semuanya harus dihitung. Ada jejak ilmu yang bekerja dengan caranya sendiri. Ia berjalan melalui orang-orang yang pernah belajar, kemudian berjumpa lagi dengan orang lain, berkembang menjadi gagasan baru, dan dari sana perjalanan ilmu terus berlanjut.

Kini, pada usia 51 tahun, perjalanan itu masih terus bergerak.

UIN Mataram tengah melangkah menuju ruang akademik yang semakin luas. Dunia pendidikan Islam menghadapi perkembangan yang begitu cepat. Generasi mahasiswa terus berganti, membawa pertanyaan baru dan cara membaca dunia yang berbeda. Nahdlatul Ulama pun terus bergerak bersama perubahan masyarakat. Di tengah berbagai ruang tersebut, kita masih menyaksikan Prof. Masnun menjalani amanahnya sebagai akademisi, pemimpin, dan Tuan Guru.

Maka pada hari ulang tahun ini, barangkali yang paling indah memang bukan panjangnya ucapan. Cukuplah kita ikut bersyukur atas perjalanan yang telah Allah hamparkan hingga hari ini. Lalu, seperti lazimnya seorang murid menitipkan harapan kepada gurunya, kita tentunya menyertakan doa-doa terbaik.

Semoga Prof. Masnun Tahir senantiasa dianugerahi kesehatan, usia yang penuh keberkahan, keluasan ilmu, ketenteraman bersama keluarga, serta kekuatan untuk terus menjalani amanah yang dipercayakan kepadanya.

Semoga setiap ilmu yang telah dibagikan terus hidup dalam diri orang-orang yang pernah menerimanya. Semoga setiap jalan pengabdian yang telah ditempuh membuka jalan kebaikan berikutnya. Dan semoga tahun-tahun yang akan datang mempertemukan Prof. Masnun dengan banyak kebahagiaan, keberkahan, serta kesempatan untuk terus menebarkan manfaat.

Dari Dasan Baru, jalan itu telah membawanya begitu jauh.

Namun jika perjalanan panjang ini hendak diringkas dalam satu kesan, mungkin cukup sederhana saja, bahwa seorang anak desa telah tumbuh menjadi Tuan Guru, berjalan bersama ilmu, dan membuat banyak orang ikut merasakan teduhnya perjalanan itu.

Selamat ulang tahun ke-51, Prof. Masnun. Semoga Allah menjaga setiap langkah dan melimpahkan keberkahan pada seluruh perjalanan yang masih terbentang di depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel katantb.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Akan jadi Kampus Internasional, Ini Pesan Rektor UIN Mataram
Targetkan Kampus Internasional, UIN Mataram Buka Pintu untuk Mahasiswa Asing
50 Siswa SMP Tahfiz Insan Madani Jadi Pengisi Paduan Suara Upacara HUT RI ke-81 di Kecamatan Jerowaru
Bercanda Kok Bikin Sedih? KKP 194 UIN Mataram Gaungkan Suara Anti-Bullying Mulai dari SDN 5 Sigar Penjalin
Menteri Diktisaintek Resmi Lantik Prof. Sukardi Pimpin Unram Periode 2026–2030
Anggota DPRD Lombok Timur Dapil II Mahdan Beri Sinyal Program untuk Ruang Ngaji MDT Salikussibyan
Ruang Belajar Sederhana Tak Surutkan Semangat Santri MDT Salikussibyan Ngaji
TGB Zaenul Majdi Beri Tausiyah di Pengajian Peringatan Haul ke-19 YPNMPP Hubbul Jiron NWDI Pringgarata
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 20:06 WITA

Akan jadi Kampus Internasional, Ini Pesan Rektor UIN Mataram

Selasa, 1 September 2026 - 19:39 WITA

Targetkan Kampus Internasional, UIN Mataram Buka Pintu untuk Mahasiswa Asing

Jumat, 28 Agustus 2026 - 05:03 WITA

Jejak Sang Tuan Guru Masnun Tahir: Dari Dasan Baru ke Panggung Ilmu

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:51 WITA

50 Siswa SMP Tahfiz Insan Madani Jadi Pengisi Paduan Suara Upacara HUT RI ke-81 di Kecamatan Jerowaru

Minggu, 2 Agustus 2026 - 21:03 WITA

Bercanda Kok Bikin Sedih? KKP 194 UIN Mataram Gaungkan Suara Anti-Bullying Mulai dari SDN 5 Sigar Penjalin

Berita Terbaru

Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. saat memberikan sambutan dalam acara Orientasi Akademik Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram pada Selasa (1/9) kemarin.

Mataram

Akan jadi Kampus Internasional, Ini Pesan Rektor UIN Mataram

Selasa, 1 Sep 2026 - 20:06 WITA